Senin, 21 April 2014

Mahasiswi Ini Tantang Dosen Pengujinya di Ujian Skripsi

Hari ini, saya hadiahkan apresiasi tertinggi kepada seorang mahasiswi. Ia tampil sangat elegan menghadapi lima dosen penguji. Ia pertahankan karya ilimiahnya dengan penuh spirit, tiada ‘ketakutan’ yang tergambar di wajahnya. Iapun tak segan-segan minta pertanyaan diulangi kepada seorang profesor. “Maaf Prof. Apa pertanyaannya boleh diulangi?”


Dokumen pribadi by Muhammad Armand

Tiada perlulah saya ceritakan bagaimana debat ilmiah itu dimulai. Saya terkesima saat sang professor berucap tegas: “Mestinya Anda merujuk ke teori yang ada”. Dengan sigap sang kandidat menjawab: “Saya jenuh dengan teori orang lain Prof. Saya justru ingin membuat teori”. Kian terkesima saya mendengar langsung sanggahan mahasiswiku ini.

Saya amati, mahasiswi ini sangat ekspresif. Ia bangga ungkapkan apa yang dia inginkan. Calon sarjana ini sungguh memukau di mata saya. Pertama kalinya, saya sebagai penguji kagum dengan anak ini. Saya perhatikan, tak ada ucapan berlebihan dan subyektif akan jawaban-jawaban mahasiswi ini.

Hari ini cita-cita saya tergapai, lama sudah saya rindukan sebuah ujian skripsi berlangsung debat ilmiah. Bukan sebuah formalitas yang membuat suasana ujian jauh dari atmosfir akademik. Skripsi adalah buatan murni seorang mahasiswa akhir. Saya sangat percaya, mahasiswi ini membuat skripsi dengan penuh naluri keilmuwan, roh skeptisnya terhadap sebuah perkembangan keilmuan benar-benar tampak dari hasil karya dalam penguasaannya. Potret ini sangat berbeda ekstrim jika seorang mahasiswa akhir yang skripsinya ‘dibuatkan’ orang lain. Wajahnya penuh ketegangan, ketakutan, dan terhantui rasa non akademis dan rasa bersalah.

Hari ini, durasi ujian berlangsung alot dan menyita waktu dua jam. Bukan basa-basi, perdebatan benar-benar sarat keilmiahan. Bahkan ada penguji yang dibuatnya ‘grogi’, karena pemandangan ilmiah ini pertama terjadi di kampus ini. Apalagi setingkat ujian skripsi, yang identik dengan manut-manutnya seorang kandidat. Angguk-angguk kepala bukan sepenuhnya menunjukkan sebuah kesopanan tetapi tak lebih dari sebuah rasa takut ketidaklulusan alias UJIAN ULANG.

Saya sering terheran-heran, seorang kandidat di ujian thesis malah tak sanggup mempertahankan karya ilmiahnya, padahal yang lebih menguasai thesis buatannya itu adalah dirinya sendiri. Bukan dosen penguji.

Ketakutan apakah yang sebetulnya di diri setiap kandidat?. Sungguh saya sayangkan sebab ajang ujian skripsi, thesis, bahkan disertasi kadang menjadi momok non teknis, terjatuh bukan lantaran nuansa akademik tapi karena faktor lain yang di luar marka-marka akademik.

Di akhir ujian skripsi sang mahasiswi ini, kami berlima sebagai penguji melakukan rapat penentuan kelulusan/ketidaklulusan. Dimintalah sang mahasiswi ini berdiri di depan meja ujian. Sang profesor menyampaikan rekapitulasi hasil ujian, penuh ketegasan profesor ini membacanya: “Saudari kandidat. Setelah memperhatikan proses ujian, nilai dari setiap penguji serta sikap Saudari selama ujian berlangsung. Maka dengan ini, Saudari dinyatakan tidak lulus”.

Pembacaan hasil keputusan ini tak membuat sang kandidat goyah, sedih, apalagi menangis. Ia malah berucap: “Terima kasih Prof. Saya tidak terima ketidaklulusan ini. Saya mohon tunjukkan dimana kesalahan jawaban saya sehingga nilai saya rendah. Jika terbukti secara ilmiah, jawaban saya salah. Saya terima hasil keputusan ketidaklulusan saya”.

Sang profesor diam sejenak, beliau lalu berkata: “Andai semua mahasiswaku seperti Anda, sayalah orang yang paling bangga di dunia ini. Anda benar-benar memperjuangkan hak-hak akademik Anda. Budaya debat ilmiah dari Anda membuat saya kagum. Kami nyatakan Anda LULUS dengan Cum Laude”.

sumber : kompas

Kamis, 17 April 2014

Rektor UNP Lantik Prof. Dr. Nurhizrah Gistituati, M.Ed. sebagai Direktur Program Pascasarjana UNP

Padang - Rektor Universitas Negeri Padang, Prof. Dr. Phi. H. Yanuar Kiram, melantik Prof. Dr. Nurhizrah Gistituati, M.Ed. sebagai Direktur Program Pascasarjana (PPs) Universitas Negeri Padang periode 2014-2018 pada hari Kamis, 17 April 2014. Upacara pelantikan dilaksanakan di Auditorium Pascasarjana Lt. 5 Gedung PPs UNP.

Prof. Dr. Nurhizrah Gistituati, M.Ed. atau yang lebih akrab disapa bu Ice terpilih dalam rapat Majelis Permusyawaratan Universitas berdasarkan usulan fakultas-fakultas selingkungan UNP dan usulan dosen pada PPs UNP. Beliau menggantikan pejabat Direktur Plt PPs UNP, Prof. Dr. Agus Irianto. Sebelumnya, Prof. Dr. Agus Irianto ditugaskan Rektor menggantikan Direktur Pascasarjana UNP, Prof. Dr. Mukhaiyar, M.Pd. yang telah menyelesaikan masa jabatannya.

Dalam Pidato Pelantikan Rektor UNP mengucapkan terimakasih kepada pejabat lama, Prof. Dr. Agus Irianto, yang telah menjalankan tugas dengan baik sampai dilantiknya direktur PPs UNP yang baru. Rektor juga mengucapkan selamat kepada Prof. Dr. Nurhizrah Gistituati, M.Ed. sebagai Direktur PPs UNP yang akan menjalankan tugas hingga tahun 2018. Dalam sambutannya Prof. Dr. Phil. H. Yanur Kiram juga menyampaikan penghargaan dan terimakasih kepada para pendiri PPs UNP, seperti Prof. Dr. Prayitno, M.Sc. Ed., Prof. Dr. Dachnil Kamars, Prof. Imran Manan, dll. Pendirian Program Pascasarjana di IKIP Padang saat itu (UNP sekarang) tidaklah mudah, ujarnya. Sebagai institusi pencetak guru pada saat itu kita (IKIP) masih dianggap sebagai perguruan tinggi kelas dua.

Saat ini Program Pascasarjana UNP telah berkembang pesat kita telah memiliki berbagai program S2 bahkan program S3 Doktor Ilmu Pendidikan. Saat ini kita juga telah menerima amanah 5 Program S3 lagi ujar Rektor UNP. Oleh karena itu ia berharap kerjasama dari seluruh komponen di PPs UNP untuk kemajuan universitas.

Acara pelantikan Prof. Dr. Nurhizrah Gistituati, M.Ed. yang sebelumnya juga menjabat sebagai Pembantu Dekan I Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Padang ini berjalan lancar dan penuh khidmat walaupun sempat diwarnai padamnya listrik. Acara ini dihadiri seluruh Pembantu Rektor, Dekan, Pembantu Dekan, dan kepala lembaga, biro selingkungan UNP. (HA 2263)
 
Melalui situs jejaring sosial ajp mengucapkan selamat kepada Ibu Prof. Dr. Nurhizrah Gistituati, M.Ed, ajp berharap tenaga Guru SD di Kabupaten Agam diberi kemudahan untuk menggapai S2 seperti memberikan beasiswa, menjalin kerjasama dengan pemerintah kabupaten/kota dll. Dengan motto   "bersama kita pasti bisa" Insya Allah bisa terwujud tambah beliau.
 
# ajp

Sabtu, 12 April 2014

SMAN 1 Lubukbasung dan SMPN 1 Lubukbasung Juara Umum O2SN

Lubuk Basung - SMA Negeri 1 Lubuk  Basung berhasil mengantongi 17 medali yang terdiri dari 4 emas, 4 perak dan 7 perunggu. Sedangkan SMA Negeri 1 Matur harus puas berada di posisi runner up. Dari 73 medali yang diperebutkan SMAN 1 Matur mampu mengantongi 4 emas. Disusul urutan ketiga SMA N 2 Lubuk Basung dengan 3 medali emas, 3 perak dan 4 penrunggu.
Untuk O2SN tingkat SMP, juara umum diraih oleh SMP N 1 Lubuk Basung. Sekolah ini berhasil mengantongi 9 emas, 3 perak dan 1 perunggu. Diposisi kedua ditempati SMPN 1 Tanjung Raya dengan Mengantongi 5 emas, 5 perak dan 1 perunggu. Di urutan ketiga ditempati SMP N 3 Lubuk Basung.
Sementara itu untuk tingkat SD akan digelar minggu besok, Insya Allah akan dibuka oleh Bapak Bupati Agam selasa sore (15/4)  di Stadion Bukik Bunian Lubukbasung.
sumber : diknasagam
# ajp