Senin, 21 Juli 2014

Panitia Sertifikasi Rayon 106 UNP panggil 48 Guru SD Kab. Agam untuk mengikuti Diklat PLPG Angkatan 2

Lubukbasung - Panitia Sertifikasi Guru Rayon 106 UNP sebelumnya sudah memanggil peserta PLPG Angkatan 1 sebanyak 71 Guru SD Kab. Agam yang telah dilaksanakan pada tanggal 10 s/d 19 Juli 2014 di Padang. Untuk Angkatan 2 dari pantauan ajp di situs http://sertifikasi-guru.unp.ac.id/ terdapat 48 Guru SD Kab. Agam yang akan mengikuti diklat PLPG yang akan dilaksanakan setelah libur hari Raya Idul Fitri ( 5 s.d 14 Agustus 2014) di Padang.
Berikut nama peserta dan tempat pelaksanaan
PLPG Angkatan 2
- Surat Pengantar
- Daftar Nama Peserta

Senin, 19 Mei 2014

Kesehatan Mata Operator Dapodik SD/SMP Mengkuatirkan

Lubukbasung- Akhir-akhir ini operator Dapodik SD/SMP basitungkin siang malam untuk mensingkronkan data dapodik sekolanya masing-masing. Beban mentalpun dialami para operator jika data para guru tidak valid bisa menyebabkan guru yang bersangkutan tidak menerima segala tunjangan guru.
Selalu di depan laptop, kesehatan mata para operator sekarang ini sudah mengkuatirkan. Sebut saja ahmad salah satu operator sekolah di Kec. Tanjung Mutiara mengeluhkan kesehatan matanya ditandai seringnya sakit kepala dan pancaliak an lah mulai kabua. Ahmad memutuskan untuk berobat ke RSUD Lubukbasung namun disayangkan Ahmad terpaksa dirujuk ke Padang dikarenakan RSUD Lubukbasung Dokter matanya tidak ada. Ahmad cuma berharap kepada kepala daerah kekosongan dokter mata di RSUD yang ada dipusat ibu kota kabupaten ini agar dicarikan solusinya.
# ajp

Senin, 28 April 2014

Wamendik resmikan Bukittinggi Sebagai Kota Inklusi

Bukittinggi, Kemdikbud --- Wakil Menteri Pen­didikan dan Kebu­dayaan bidang Pendidikan (Wamendik) Musliar Kasim, secara resmi mencanangkan Kota Bukittinggi sebagai Kota Inklusi di Sumatera Barat. Dengan pencanangan ini, maka semua sekolah mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), hingga SMA/SMK di Kota Bukittinggi bisa menerima peserta didik yang berkebutuhan khusus.
“Sehingga diharapkan anak-anak berkebutuhan khusus dapat bersekolah seperti orang normal. Sehingga dengan kemahiran dan keterampilan yang mereka miliki, mereka akan bisa mandiri,” ujar Musliar di Bukittinggi, Sumbar, (26/04/2014).
Ia berharap, pencanangan Bukittinggi sebagai Kota Inklusi bisa menjadi momentum untuk memberikan layanan pendidikan sebaik-baiknya kepada anak-anak berkebutuhan khusus, dan bermanfaat bagi mereka, orang tua, dan bangsa.
“Selama ini pemahaman  kita, anak-anak yang berkebutuhan khusus tidak bisa dididik. Justru anak-anak berkebutuhan khusus itu banyak yang mempunyai talenta yang khusus dan lebih baik daripada kita yang normal,” tutur Musliar.
Mantan Rektor Universitas Andalas itu menambahkan, rencananya Sumatera Barat juga akan  dicanangkan sebagai Provinsi Inklusi. Pencanangan tersebut nantinya akan menjadikan Sumbar sebagai provinsi ke-6 yang dicanangkan sebagai Provinsi Inklusi. “Dua bulan lalu kami mencanangkan Provinsi Sumatera Selatan yang ke-5,” ujarnya.
Pencanangan Bukittinggi sebagai Kota Inklusi juga dihadiri oleh Direktur Pembinaan Pendidikan Khu­sus dan Layanan Khusus (PKLK) Pendidikan Dasar Kemdikbud, Mudjito, dan Gubernur Sumbar yang diwakili Sekdaprov, Ali Akmar. Di samping itu, juga hadir Kepala Dinas Pendidikan Sumbar, Syamsulrizal, beserta Kepala Dinas Pendidikan dari 100 kabupaten dan kota se-Indonesia sebagai peserta Sosialisasi Pendidikan Inklusi Kemdikbud yang dilaksanakan di Padang, Sumbar. (Desliana Maulipaksi)